Hari Otoda, Ini Kritikan Luthfi A Mutty

Hari Otoda, Ini Kritikan Luthfi A Mutty
Lutfi A Mutty. 
JOGJA, KLIKNEWS.ID --- Hari Otonomi Daerah (Otoda) diperingati serentak di Indonesia, dan dipusatkan di Yogyakarta, hari ini, Senin 25 April 2016. Sayangnya, masih banyak hal yang dinilai bertentangan dengan filosofi otoda.

Berikut kritikan terkait masalah Otoda yang ditulis anggota DPR RI dari Fraksi Nasdem, Luthfi A Mutty, di beranda akun pribadi media sosial Facebook miliknya, yang KLIKNEWS.ID kutip secara keseluruhan.

Quo Vadis Otonomi Daerah

Hari Otonomi Daerah diperingati hari ini di Yogyakarta. Otonomi adalah implikasi dari politik desentralisasi. Artinya, tidak ada otonomi tanpa desentralisasi. 

Dengan desentralisasi, maka pemerintah menyerahkan sebagian ururan kepada daerah untuk dikelola menjadi urusan rumah tangga daerah. Seyogyanya urusan yang diserahkan kian bertambah seiring dengan semakin bertambahnya kemampuan sebuah daerah untuk mengelola urusan rumah tangganya. Bukan sebaliknya.

Terhadap urusan yang telah diserahkan, pemerintah tetap berkewajiban melakukan pembinaan, bimbingan, evaluasi dan pengawasan dg membuat norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK).

Tetapi yang terjadi saat ini bukannya urusan rumah tangga kian ditambah, justeru yang terjadi adalah resentralisasi. Urusan pemerintahan di bidang energi, kelautan, kehutanan dan pendidikan menengah yang sudah diserahkan kepada daerah kabupaten/kota, ditarik menjadi urusan provinsi. 

Yang lebih parah lagi adalah Kemdagri yang seharusnya paling bertanggung jawab dan menjadi pelopor dalam politik desentralisasi, malah ikut-ikutan melakukan resentralisasi. Urusan Kesbang dan Capil sekarang telah menjadi urusan dekonsentrasi.

Karena itu saya tidak mengerti untuk apa ada peringatan hari otonomi, jika disaat yang sama justeru otonomi daerah kian digerogoti oleh politik resentralisasi.

Jika di masa Orba yang sering dinilai sebagai masa pemerintahan yang sangat sentralistik dan otoriter saja tidak pernah terjadi resentralisasi, lantas kenapa di masa sekarang yang katanya era desentralisasi malahan terjadi praktek resentralisasi? (***)

Share on Google Plus

0 comments:

Post a Comment